Beberapa hari ini Panas benar-benar menyengat, seakan
matahari terasa lebih dekat ke bumi. Hujan sore ini terasa sebagai oase yang
muncul sayup-sayup di tengah terik dan panasnya padang pasir yang membentang
luas. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan, karena hari-hari tetap terasa
panas dengan debu yang beterbangan tertiup angin, sementara rerumputan terasa
meranggas dan mengering sendu.
Tak terasa tiba-tiba langit sedikit kelabu, perlahan
butiran-butiran kecil air mulai menggoyang batang-batang pandan di sudut inner
cour rumahku. Perlahan derasnya mulai terasa, kecipak air sedikit memantul dari
butiran koral kecil di taman, suara derasnya makin terasa. Keponakanku yang
tertidur pulas di ujjung sofa tetap terlelap, tidak merasakan sedikitpun butiran kecil air hujan
yang sedikit tampias tertiup angin yang masuk ke dalam rumah.
Baru saja aku bangun dari tidur siang sejenak, menikmati
sejenak garis-garis vertikal yang menari dengan latar dinding pagar berlapis
kamprotan semen tanpa cat yang terlihat kelabu. Abu-abu, sedikit gelap, tapi
menenangkan. Anak-anakku masih tertidur di kamar, mainan berantakan belum
sempat dirapikan.
Aku suka hujan, lebih tepanya perindu hujan. Entah kenapa
orang-orang lebih senang mengutuk dan mengeluhkan datangnya butiran air yang
muncul dari titik jenuh awan, aku tidak tahu. Apakah mereka tidak merasakan apakah
tertumpahnya air dari langit juga membasuh hati yang kering selain membasuh
keringnya tanah dan bumi? Entahlah.
Bagiku, hujan tidak hanya oase bagi bumi, juga oase bagi jiwa. Hujan mestinya membuat kita
berhenti sejenak dari perjalanan dan ketergesa-gesaan yang dihela oleh sang
waktu yang seolah memaksa kita untuk tidak sanggup berhenti, selelah apapun
kondisi kita. Hmm, ...
Mestinya hujan bisa menjadi sumber inspirasi dari luapan
jiwa, yang mewujud dalam karya. Kla Project menjadikan gerimis sebagai
inspirasi terciptanya lagu dengan judul yang sama, termasuk juga lagu lawas
Ratih Purwasih, mapun syair puisi dari Penyair Besar Sutardji Calzoum Bachri
dan Sapardi Djoko Damono. Semua bercerita tentang hujan, maupun hujan sebagai
latar yang membangkitkan memori tentang suatu peristiwa, seseorang, atau
apapun.
Mengingat gerimis, mengingat momen denganmu pada suatu
ketika di pelataran parkir Kaliurang, seminggu setelah janji suci sepuluh tahun
lalu. Gerimis yang tiba-tiba tertumpah pelan-pelan, bersamaan dengan pekat dan
makin kelabunya awan. Segera kubentangkan payung lusuh kita, berjalan kita
menapak tangga-tangga di hutan alam Kaliurang. Suara kepak sayap burung-burung
liar yang terbang dari dahan menghindari hujan yang makin lama makin deras.
Mistis dan romantis, baru seminggu kita mengenal masing-masing. Masihkah kau
mengingat itu?
Begitu cepat waktu berlalu, sepuluh tahun sudah. Seolah baru
kemaren. Butiran-butiran itu seolah mengingatkan kembali. Perlahan hujan mulai
mereda, menyisakan basah pada dedaunan, tanah, dan kaca jendela. Sedikit
tampias pada lantai rumah yang memang kubiarkan terbuka. Damai, hening, masih
tertinggal, semoga tidak ikut menghilang bersama meredanya hujan. Dirimu
bangun, apakah ikut merasakan gerimis juga di hatimu?
Ditulis Minggu malam hari, masih berharap besok pagi sang
hujan akan datang lagi. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar