Minggu, 12 Oktober 2014

Hujan di Minggu sore.....




Beberapa hari ini Panas benar-benar menyengat, seakan matahari terasa lebih dekat ke bumi. Hujan sore ini terasa sebagai oase yang muncul sayup-sayup di tengah terik dan panasnya padang pasir yang membentang luas. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan, karena hari-hari tetap terasa panas dengan debu yang beterbangan tertiup angin, sementara rerumputan terasa meranggas dan mengering sendu.
Tak terasa tiba-tiba langit sedikit kelabu, perlahan butiran-butiran kecil air mulai menggoyang batang-batang pandan di sudut inner cour rumahku. Perlahan derasnya mulai terasa, kecipak air sedikit memantul dari butiran koral kecil di taman, suara derasnya makin terasa. Keponakanku yang tertidur pulas di ujjung sofa tetap terlelap, tidak  merasakan sedikitpun butiran kecil air hujan yang sedikit tampias tertiup angin yang masuk ke dalam rumah.
Baru saja aku bangun dari tidur siang sejenak, menikmati sejenak garis-garis vertikal yang menari dengan latar dinding pagar berlapis kamprotan semen tanpa cat yang terlihat kelabu. Abu-abu, sedikit gelap, tapi menenangkan. Anak-anakku masih tertidur di kamar, mainan berantakan belum sempat dirapikan.
Aku suka hujan, lebih tepanya perindu hujan. Entah kenapa orang-orang lebih senang mengutuk dan mengeluhkan datangnya butiran air yang muncul dari titik jenuh awan, aku tidak tahu. Apakah mereka tidak merasakan apakah tertumpahnya air dari langit juga membasuh hati yang kering selain membasuh keringnya tanah dan bumi? Entahlah.
Bagiku, hujan tidak hanya oase bagi bumi, juga  oase bagi jiwa. Hujan mestinya membuat kita berhenti sejenak dari perjalanan dan ketergesa-gesaan yang dihela oleh sang waktu yang seolah memaksa kita untuk tidak sanggup berhenti, selelah apapun kondisi kita. Hmm, ...
Mestinya hujan bisa menjadi sumber inspirasi dari luapan jiwa, yang mewujud dalam karya. Kla Project menjadikan gerimis sebagai inspirasi terciptanya lagu dengan judul yang sama, termasuk juga lagu lawas Ratih Purwasih, mapun syair puisi dari Penyair Besar Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono. Semua bercerita tentang hujan, maupun hujan sebagai latar yang membangkitkan memori tentang suatu peristiwa, seseorang, atau apapun.
Mengingat gerimis, mengingat momen denganmu pada suatu ketika di pelataran parkir Kaliurang, seminggu setelah janji suci sepuluh tahun lalu. Gerimis yang tiba-tiba tertumpah pelan-pelan, bersamaan dengan pekat dan makin kelabunya awan. Segera kubentangkan payung lusuh kita, berjalan kita menapak tangga-tangga di hutan alam Kaliurang. Suara kepak sayap burung-burung liar yang terbang dari dahan menghindari hujan yang makin lama makin deras. Mistis dan romantis, baru seminggu kita mengenal masing-masing. Masihkah kau mengingat itu?
Begitu cepat waktu berlalu, sepuluh tahun sudah. Seolah baru kemaren. Butiran-butiran itu seolah mengingatkan kembali. Perlahan hujan mulai mereda, menyisakan basah pada dedaunan, tanah, dan kaca jendela. Sedikit tampias pada lantai rumah yang memang kubiarkan terbuka. Damai, hening, masih tertinggal, semoga tidak ikut menghilang bersama meredanya hujan. Dirimu bangun, apakah ikut merasakan gerimis juga di hatimu?
Ditulis Minggu malam hari, masih berharap besok pagi sang hujan akan datang lagi. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar