Selasa, 16 September 2014

Der Untergang



Saat itu perang dunia Kedua tengah berkecamuk di Eropa, Asia, dan Afrika. Berawal dari penyerbuan Nazi Jerman ke Polandia, yang menyebabkan Eropa menjadi medan peperangan besar yang membelah kekuatan dunia menjadi dua poros, Sekutu (Inggris, Perancis, Amerika, Rusia, dkk) dan Axis (Jerman, Itali, Jepang). Saat itu Jerman masih dalam posisi di atas angin, setelah serangkaian serangan menyebabkan sejumlah negara eropa takluk, termasuk Perancis.
November 1942,. Serombongan perempuan muda dalam kegelapan malam menerobos ke dalam pertahanan superketat di Markas Besar Adolf Hitler yang disebut WolfLair (sarang serigala) di Rastenburg, Prusia Timur. Mereka menjalani tes untuk untuk menjadi sekretaris Sang Fuhrer ( julukan/ gelar Hitler ), salah satunya Traudl Junge, gadis dari Munich. Pada akhirnya dia yang terpilih untuk menjadi salah satu sekretaris sang diktator besar, menulis dan mencatat semua statement , pernyataan, dan testamen Hitler, termasuk merekam keseharian dan dinamika politik yang  melingkupi Hitler beserta orang-orang disekitarnya dalam memorinya.
Berlin, 20 April 1945, 2,5 tahun kemudian bertepatan ulang tahun ke 56 Hitler.
Situasi sudah berubah, nasib Jerman berada di ujung tanduk setelah serangkaian kekalahan demi kekalahan dialaminya, termasuk sekutunya: Jepang dan Italia. Kehancuran Jerman di Stalingrad ( Battle of Stalingrad ) menjadi titik balik keruntuhan dan kejatuhan ( Der Untergang ) rejim Hitler. Rusia sudah hampir memasuki Berlin dari front Timur, sementara negara Eropa barat dan Amerika menyerbu dari front Barat. Tinggal menunggu waktu saja Berlin jatuh.
Moral serdadu Jerman runtuh, termasuk para Jenderalnya. Bahkan orang –orang di lingkaran dalam Hitler sudah mulai putus asa, dan mewacanakan untuk membuat kesepakatan damai dengan Sekutu, meskipun masih ada yang kukuh dan setia dengan ideologi Hitler sampai titik darah terakhir, salah satunya Menteri propaganda nazi, Joseph Goebbels dan isterinya, Magda. Hitler tetap bersikeras untuk tidak menyerah, dan memerintahkan para Jenderalnya untuk tetap melanjutkan perlawanan yang sia-sia.
Di dalam bunkernya, Hitler hanya bisa mendengar rentetan tembakan dan dentuman bom dari pihak Rusia yang menghujani langit Berlin. Wajah-wajah putus asa dan ketakutan terlihat dari para pembantu Hitler yang ikut bersembunyi dalam bunker. Persediaan amunisi, makanan, bahan bakar makin menipis, tidak ada gunanya untuk melanjutkan pertempuran lagi. Bujukan agar Hitler meninggalkan Berlin agar Jerman tidak segera jatuh ke tangan Rusia secara tragis diabaikan oleh sang Fuhrer. Tampaknya mimpi kebesaran Jerman raya menumpulkan akal sehat dan nalar Hitler.
Sang sekretaris, Traudl Junge menjadi saksi hari-hari terakhir Adolf Hitler dalam menanti saat keruntuhannya di dalam bunker, kemarahan Hitler terhadap para Jenderalnya yang tidak mentaati perintahnya, sikap keras kepalanya untuk tetap membiarkan rakyat Berlin semakin menderita oleh rangkaian serangan bom dari pihak Rusia, serta pernikahan yang dilakukan Hitler bersama Eva Braun, tepat sehari sebelum Hitler memutuskan untuk bunuh diri daripada menyerah setelah Berlin jatuh. Drama tragis ini yang kemudian dituangkan dalam buku “ Until The Final Hour”, yang ditulis bersama Melissa Muller. Buku ini menjadi salah satu inspirasi pembuatan film Downfall, film Jerman dan Austria yang merekonstruksi sepuluh hari terakhir Hitler menjelang kejatuhannya. Film Downfall yang dirilis tahun 2004 menjadi film tentang Hitler yang paling fenomenal. Deskripsi tentang Hitler dianggap sebagai yang paling akurat dibandingkan semua film yang menampilkan sosok Adolf Hitler, bahkan adegan kemarahan Hitler di hadapan pembantunya menjadi inspirasi parodi yang paling banyak dibuat dan muncul di Youtube.
Traudl Junge juga menjadi saksi parade keputusasaan dari para pamuja “tuhan” Hitler. Kejatuhan Hitler dianggap sebagai kehancuran segala-galanya, seolah hidup menjadi tidak berarti lagi. Salah satunya adalah Magda Goebbels, wanita yang sangat fanatik terhadap ideologi Sosialisme Nasional Hitler. Bersama suaminya akhirnya memutuskan untuk ikut bunuh diri bersama Hitler setelah sebelumnya meracun kelima anaknya dengan kapsul sianida. Tragis.
Bagi anda yang pernah menyaksikan film Downfall, setengah jam terakhir menjadi panggung hitam kesia-siaan hidup. Hitler telah demikian luar biasa menyihir para pengikutnya untuk meyakininya sebagai segala-galanya, hidup menjadi absurd bagaikan mata yang tertipu fatamorgana oase di padang pasir tandus. Keputusan Hitler untuk mengakhiri hidup secara tragis diikuti oleh sebagian pengikutnya yang terjebak keputusasaan akut. Sebagian lain memutuskan untuk tetap melanjutkan hidup, melarikan diri dari bunker setelah Rusia dengan jumawa memasuki kota Berlin tanpa perlawanan berarti.
Beruntung Traudl junge memilih untuk tetap bertahan hidup, meskipun tetap menjalani kehidupan yang tidak mudah pasca berakhirnya perang Dunia Kedua. Kesaksiannya dalam “Until the Final Hour” membuat dunia tahu apa sesungguhnya yang terjadi dalam kehidupan keseharian Hitler, terutama hari-hari terakhirnya (meskipun fakta kematiannya masih menjadi kontroversi bagi sebagian kalangan yang tidak mempercayai narasi resmi kematian Hitler dengan cara bunuh diri ).
Semoga ini menjadi pelajaran bersama, betapa tragis dan sia-sianya kehidupan yang dijalani bersama “dajjal” yang membiuskan racun seolah madu. Betapa kuat dan perkasanya dia, sesungguhnya ada Sang Maha Perkasa yang serba segala-galanya. Naik dan runtuhnya para dajjal menjadi sunatullah yang selalu dilupakan oleh para pembuta nurani, ibarat pesta yang pasti akan berakhir. Tidakkah kita berharap keabadian yang sesungguhnya?
bunker Hitler setelah jatuh ke tangan Rusia
Menjelang tengah malam, sayup-sayup”Ujung aspal PondoK Gede” dari Iwan Fals mengalun pelan dari speaker laptop, meratapi tersingkirnya pribumi oleh kekuatan kapital para pemodal,  atas nama modernitas dan kemajuan kota.
Tulisan selesai sampai di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar